/I/
langit berubah jelaga
pendarnya merengut pada ujung ilalang
atau ia hanya bungkam
membisu dari diamnya
/II/
matamu berbisik tajam
entah dengan lidah yang gelisah
atau nafsu tanpa nyali
yang kau sembunyikan di balik takutmu?
/III/
pada jenuh aku bersumpah
mataku tak akan lekang pada langitmu
8.3.09
pada langitmu
muak
mata itu..
hanya muslihat
hanya menjilat pada saat dan waktu yang tak tepat
sedang tak kau tahu
aku
:muak
hanya muslihat
hanya menjilat pada saat dan waktu yang tak tepat
sedang tak kau tahu
aku
:muak
23.2.09
dalam rinduku
:hari ini
ingin kutulis berlembarlembar rindu untukmu
pada buramnya langit yang tertutup awan mendung
dan dalam gerimis yang menghantarkan cercau burung pada senyap
atau dalam genangan hujan malam tadi
ingin kusulam sebuah rindu untukmu
pada rantingranting yang masih menitikkan tarian embun
tepat di ujung ilalang yang merunduk malu
atau di sesisa pelangi penghujan malam tadi
ingin kutanam sebuah rindu untukmu
pada rapuhnya langkahku saat ini
pada sudut matamu yang tergambar jelas di tiap celah hati
bahwa aku
benarbenar merindukanmu saat ini..
apa dirimu merasakan yang sama?
aku harap..
ingin kutulis berlembarlembar rindu untukmu
pada buramnya langit yang tertutup awan mendung
dan dalam gerimis yang menghantarkan cercau burung pada senyap
atau dalam genangan hujan malam tadi
ingin kusulam sebuah rindu untukmu
pada rantingranting yang masih menitikkan tarian embun
tepat di ujung ilalang yang merunduk malu
atau di sesisa pelangi penghujan malam tadi
ingin kutanam sebuah rindu untukmu
pada rapuhnya langkahku saat ini
pada sudut matamu yang tergambar jelas di tiap celah hati
bahwa aku
benarbenar merindukanmu saat ini..
apa dirimu merasakan yang sama?
aku harap..
hening
aku lelah
pada masa yg memerah
menjamah sekian waktu
tapi tetap kaku
sisi lemahku terumbar
tak pantas untuk
menyeka tiaptiap lembar
yang bosan selalu mengetuk
terpecah imaji
pergi!
pergi!
pergi!
pergi!
pergi!
PERGI!!!
...kawan
tak sadarkah
aku hanya ingin
:hening
pada masa yg memerah
menjamah sekian waktu
tapi tetap kaku
sisi lemahku terumbar
tak pantas untuk
menyeka tiaptiap lembar
yang bosan selalu mengetuk
terpecah imaji
pergi!
pergi!
pergi!
pergi!
pergi!
PERGI!!!
...kawan
tak sadarkah
aku hanya ingin
:hening
tentang semalam
ini mataku..
lelah mengakar airmata
dan ini tanganku
tak lepas dari matamu
menangkup untuk menjerang tangismu
apa salah?
merobek rahim ibu
tatap sedikit kebenaran
pada realita yang mungkin buram
tak ada yang salah
pun tanpa sebelah kakimu yang tergelincir
matamu tetap tegar
tapi mereka..
menatap nyinyir pada retak resahku
mencibir tiap lekuk lukaku
seolah aku tak punya rupa
(yang bahkan lebih hina dari kotoran mereka)
sebegitu rendahkah kau menilai dirimu?
letak lakumu tak pernah seperti itu
- setidaknya di mataku
ah..
kau tak mengerti kawan
sekelumit hatiku berupa debu
takkah kau sadar dulu..
pernah kau titipkan sisa harumu
pada trotoar yang membisu
padahal tak kau tahu
aku di belakangmu
berharap coba kau titipkan selembar pedih di pundakku
bersama cemas yang semakin menua di ujung waktu
(dan akupun punya banyak waktu untuk itu)
sudahlah..
mari kita duduk
dan akan kusuguhkan kopi hitam kesukaanmu
bersama ceritacerita yang masih tertahan
(karena aku punya banyak waktu untuk itu)
tercatat terpisah pada ujung cemas
lelah mengakar airmata
dan ini tanganku
tak lepas dari matamu
menangkup untuk menjerang tangismu
apa salah?
merobek rahim ibu
tatap sedikit kebenaran
pada realita yang mungkin buram
tak ada yang salah
pun tanpa sebelah kakimu yang tergelincir
matamu tetap tegar
tapi mereka..
menatap nyinyir pada retak resahku
mencibir tiap lekuk lukaku
seolah aku tak punya rupa
(yang bahkan lebih hina dari kotoran mereka)
sebegitu rendahkah kau menilai dirimu?
letak lakumu tak pernah seperti itu
- setidaknya di mataku
ah..
kau tak mengerti kawan
sekelumit hatiku berupa debu
takkah kau sadar dulu..
pernah kau titipkan sisa harumu
pada trotoar yang membisu
padahal tak kau tahu
aku di belakangmu
berharap coba kau titipkan selembar pedih di pundakku
bersama cemas yang semakin menua di ujung waktu
(dan akupun punya banyak waktu untuk itu)
sudahlah..
mari kita duduk
dan akan kusuguhkan kopi hitam kesukaanmu
bersama ceritacerita yang masih tertahan
(karena aku punya banyak waktu untuk itu)
tercatat terpisah pada ujung cemas
Subscribe to:
Posts (Atom)