kau tahu?
di selembar hati ini hanya ada
namamu
17.11.11
sudah selesai
aku lelah menyimpan
rindu yang terlipat di mata
ku
dan aku ingin rindu itu menjelma butiranbutiran
penat yang kemudian jatuh bersama airmata
ku
rindu yang terlipat di mata
ku
dan aku ingin rindu itu menjelma butiranbutiran
penat yang kemudian jatuh bersama airmata
ku
26.10.11
hitam
tidakkah indah?
pendar bulan yang kian pudar
dan semakin hitam
seperti hatiku
pendar bulan yang kian pudar
dan semakin hitam
seperti hatiku
21.10.11
seperti katamu
seperti katamu:
hidup itu singkat. sesingkat rentang waktu yang berada di antara adzan dan iqomah
aku terdiam. membuka coretancoretan lama yang pernah aku tinggalkan dulu. di sini.
maka katamu (lagi):
waktu memang tak terbatas, tapi waktu kita yang terbatas
ah.. sembilan tahun sudah. bahkan waktu tak bisa menghalanginya..
hidup itu singkat. sesingkat rentang waktu yang berada di antara adzan dan iqomah
aku terdiam. membuka coretancoretan lama yang pernah aku tinggalkan dulu. di sini.
maka katamu (lagi):
waktu memang tak terbatas, tapi waktu kita yang terbatas
ah.. sembilan tahun sudah. bahkan waktu tak bisa menghalanginya..
tak mungkin aku bertandang dengan rasa yang gagap, padamu
tak mungkin aku bertandang dengan rasa yang gagap, padamu
barangkali, itu akan menjadi lariklarik gerimis yang jatuh pada pagi
lalu bertumbuh benih benih rindu di dadaku
serupa kelembutan nafas, pada penggal kalimat yang kau lafadz
setahun lalu
belum genap musim ini kita menadah hujan, mencuri matahari
dan embun belum sempat menitipkan pesan malam tadi
lantas, bagaimana aku menembang syairsyair sendu?
ihwal tentang lingkar janji di terang bulan
yg tak pernah kau kirimkan kepada angin, bahkan
sketsa bayangmu masih buram
aku masih mempertanyakan kata yang tertinggal di matamu
agar tercipta hari ini, esok dan masa depan
lewat pijar langkah yg sedang terbakar sepi
berusaha menyalakan suluhsuluh kehidupan
yang padam karena pengembaraanmu
adakah engkau tahu
aku semakin dekat dengan kelangkaan
selaksa harap akan punah
ke tanah lapang yang tak ku kenal
dan akan terkubur. dalam. sedalam lukaku
ini
mengertilah
jalan ketiadaanku yang semakin tua, sebab belum genap musim berganti
dan aku tak mencoba ambil peduli karena
tak mungkin aku bertandang lagi dengan rasa yang gagap, padamu
barangkali, itu akan menjadi lariklarik gerimis yang jatuh pada pagi
lalu bertumbuh benih benih rindu di dadaku
serupa kelembutan nafas, pada penggal kalimat yang kau lafadz
setahun lalu
belum genap musim ini kita menadah hujan, mencuri matahari
dan embun belum sempat menitipkan pesan malam tadi
lantas, bagaimana aku menembang syairsyair sendu?
ihwal tentang lingkar janji di terang bulan
yg tak pernah kau kirimkan kepada angin, bahkan
sketsa bayangmu masih buram
aku masih mempertanyakan kata yang tertinggal di matamu
agar tercipta hari ini, esok dan masa depan
lewat pijar langkah yg sedang terbakar sepi
berusaha menyalakan suluhsuluh kehidupan
yang padam karena pengembaraanmu
adakah engkau tahu
aku semakin dekat dengan kelangkaan
selaksa harap akan punah
ke tanah lapang yang tak ku kenal
dan akan terkubur. dalam. sedalam lukaku
ini
mengertilah
jalan ketiadaanku yang semakin tua, sebab belum genap musim berganti
dan aku tak mencoba ambil peduli karena
tak mungkin aku bertandang lagi dengan rasa yang gagap, padamu
Subscribe to:
Posts (Atom)