5.10.14

malam rabu

aku suka malam rabu.
tak perlu berlari, akan kutunggu.
sekalipun tubuhku kaku karena dingin di malam buta.

seringsering saja meniup wajahku
supaya aku tak pernah lupa.

lelayang 2

aku ini bodoh
memuja lelayang yang sudah menemukan angin lain.
harusnya dari dulu kudengarkan katakatamu, "kita bisa berbagi".

egoku, bahwa hanya aku yang merasa dan tahu apa itu rasanya.
egoku, bahwa apa yang aku inginkan harusnya aku dapatkan.
harusnya.

yah,
kenapa harus menjadi bodoh terus-menerus, bukan?
ini sudah genap. sudah semua.

aku siap berkemas pada keretamu.

4.6.13

cerita tengah malam

malam telah menggelayut manja di pelupuk mata. tapi senja seolah masih memanggil untuk kembali.

melihatmu, adalah warna.
menggenggammu adalah rasa.
bersamamu, adalah hidup.
dan bintang, adalah jawaban.
walau jejak yang aku tinggalkan disini selalu tak serupa jejakmu.

tapi tenanglah. hujan akan datang. dan memeluk kita.
seperti ceritacerita yang pernah kita tulis di ingatan.

aku mencintaimu. dan bintangku.
dan akan tetap seperti itu adanya.

27.1.12

tak perlu

sayang..
tak perlu menunggu malam. ia
takkan pernah datang. sebab aku telah
lebih dulu membunuh

senja

9.12.11

bintang

adalah seorang satria. yang padamu.
pada kita.
dititipkan. kini menjadi bagian dari mimpimimpi kita.


tadinya, aku tak mampu melukiskan ketidakmungkinan. seperti menebak masa depan. menyusun hidup yang menggumpal di balik ombak. atau memungut rindu yang tersangkut di ranting

tapi melihatnya, adalah tentang ketidakmungkinan. menjadi mungkin.
adalah kesempurnaan.
tanpa spasi. tanpa apaapa

dan biarlah jika ia mencipta airmata. miliknya.
nanti.
karena memang itu cara menyapa dunianya. menyapa kita.

janji telah tergenapi. pada hari yang tersenyum di awal bulan keduabelas. tepat di larik akhir senja yang jingga.

untuk dia, yang kita sebut: bintang