aku menggenggam catatan kecil tentang
pesan yang tak lagi terbaca di tanganku
yang padaku telah terhapus semua
cerita tentang aku yang dulu
karena sejauh ini aku hanya mampu
bergumam pada detak nadiku sendiri
lalu..
apa aku tak berhak untuk
memecah takdir di sisa perjalanan
ku?
24.9.09
pesan
di tiap renyah heningku
tak henti aku menjejak nafas dalam
nadimu
tak henti aku menjejak nafas dalam
nadimu
limbung
tawa renyah itu perlahan pudar
di bibir
mu
dan entah apa itu sebuah pertanda
untuk
ku?
di bibir
mu
dan entah apa itu sebuah pertanda
untuk
ku?
10.7.09
tonet: tiga
aku hanya meminta sedikit titik lentera.
pada masa yang masih terbawa pengap
antara hujan. dan barisan rapi luka yang semula
perih. dulu. maka katamu itu sudah lengkap.
mungkin masih bisa ku baca catatan kelam
tentang ajakan hati yang tak lagi menjerat.
memisah jarak akan entah. dan menanti hingga malam
tertidur lelap. semua telah kujaga di sini. erat.
sudahlah. tak usah kau merasa lebih puas.
aku telah merelakan nafasmu yang tak menjelma
seperti pelangi lagi. dan memang telah jelas
apa inginku. hanya ingin berdiri di pinggiran senja.
tiga kata yang awalnya memang sempat
tak terucap telah terkunci di mataku. rapat.
pada masa yang masih terbawa pengap
antara hujan. dan barisan rapi luka yang semula
perih. dulu. maka katamu itu sudah lengkap.
mungkin masih bisa ku baca catatan kelam
tentang ajakan hati yang tak lagi menjerat.
memisah jarak akan entah. dan menanti hingga malam
tertidur lelap. semua telah kujaga di sini. erat.
sudahlah. tak usah kau merasa lebih puas.
aku telah merelakan nafasmu yang tak menjelma
seperti pelangi lagi. dan memang telah jelas
apa inginku. hanya ingin berdiri di pinggiran senja.
tiga kata yang awalnya memang sempat
tak terucap telah terkunci di mataku. rapat.
22.6.09
(bukan) pangeranmu
aku akan datang. di salahsatu malammu
bukan dengan kuda putih. layaknya pangeranpangeran dalam negeri dongengmu. hanya kuda biasa. yang salah satu kakinya terluka; seperti hatiku. mungkin
aku akan datang. di salahsatu malammu. di bawah langit. pada gumpalan awan penat yang bergelimpangan di tiap tatapku. tunggu saja
akan kukembalikan semua luka. serpihan perih. serta pecahanpecahan nafas yang pernah kau titipkan padaku. tepat. di salahsatu malammu
nanti
bukan dengan kuda putih. layaknya pangeranpangeran dalam negeri dongengmu. hanya kuda biasa. yang salah satu kakinya terluka; seperti hatiku. mungkin
aku akan datang. di salahsatu malammu. di bawah langit. pada gumpalan awan penat yang bergelimpangan di tiap tatapku. tunggu saja
akan kukembalikan semua luka. serpihan perih. serta pecahanpecahan nafas yang pernah kau titipkan padaku. tepat. di salahsatu malammu
nanti
Subscribe to:
Posts (Atom)