aku hanya meminta sedikit titik lentera.
pada masa yang masih terbawa pengap
antara hujan. dan barisan rapi luka yang semula
perih. dulu. maka katamu itu sudah lengkap.
mungkin masih bisa ku baca catatan kelam
tentang ajakan hati yang tak lagi menjerat.
memisah jarak akan entah. dan menanti hingga malam
tertidur lelap. semua telah kujaga di sini. erat.
sudahlah. tak usah kau merasa lebih puas.
aku telah merelakan nafasmu yang tak menjelma
seperti pelangi lagi. dan memang telah jelas
apa inginku. hanya ingin berdiri di pinggiran senja.
tiga kata yang awalnya memang sempat
tak terucap telah terkunci di mataku. rapat.
10.7.09
22.6.09
(bukan) pangeranmu
aku akan datang. di salahsatu malammu
bukan dengan kuda putih. layaknya pangeranpangeran dalam negeri dongengmu. hanya kuda biasa. yang salah satu kakinya terluka; seperti hatiku. mungkin
aku akan datang. di salahsatu malammu. di bawah langit. pada gumpalan awan penat yang bergelimpangan di tiap tatapku. tunggu saja
akan kukembalikan semua luka. serpihan perih. serta pecahanpecahan nafas yang pernah kau titipkan padaku. tepat. di salahsatu malammu
nanti
bukan dengan kuda putih. layaknya pangeranpangeran dalam negeri dongengmu. hanya kuda biasa. yang salah satu kakinya terluka; seperti hatiku. mungkin
aku akan datang. di salahsatu malammu. di bawah langit. pada gumpalan awan penat yang bergelimpangan di tiap tatapku. tunggu saja
akan kukembalikan semua luka. serpihan perih. serta pecahanpecahan nafas yang pernah kau titipkan padaku. tepat. di salahsatu malammu
nanti
dua rerupa
mungkin dalam jarak kesekian entah, letakmu akan berubah. wujud, bahkan letak nafasmupun beda. pada kesah. dalam lelah. tentang kisah?
bahkan untuk mengerti jejakmu, hatiku yang harus bermain dengan jenuh. kadang terang. kadang gelap. dan aku tersesat dalam itu. takkah kau tahu?
atau kadang tak lagi aku bisa mengartikan senyum yang kau titipkan di bibirku. renyah. namun tanpa rasa. dan kau?
hening
kau bukan kau. tapi itu kau. dan kau tak ada dalammu. sedang kau adalah kau
mungkin dalam rerupa kisahmu, aku hanya pangeran kodok. bermata besar. berkaki lebar. berotak dungu. yang harus mengikuti kemauanmu
lagilagi aku terdiam
bahkan untuk mengerti jejakmu, hatiku yang harus bermain dengan jenuh. kadang terang. kadang gelap. dan aku tersesat dalam itu. takkah kau tahu?
atau kadang tak lagi aku bisa mengartikan senyum yang kau titipkan di bibirku. renyah. namun tanpa rasa. dan kau?
hening
kau bukan kau. tapi itu kau. dan kau tak ada dalammu. sedang kau adalah kau
mungkin dalam rerupa kisahmu, aku hanya pangeran kodok. bermata besar. berkaki lebar. berotak dungu. yang harus mengikuti kemauanmu
lagilagi aku terdiam
7.6.09
tentang jiwa yang menjerit karenamu
pernah kau tulis sebuah sajak. tepat di sebalik nafasku yang labil. yang olehmu kau bawa aku memecah matahari. menyeka kesah di tiap bujurnya. tanpa tahu aku menahan perihnya.
pernah kau tulis sebuah sajak. yang dalam peng-aku-anmu, aku bukan aku. terhapus logika. hanya kering matamu yang coba berontak dari hatimu.
pernah kau tulis sebuah sajak. dalam remah luka.
dan aku-
-lelah
pernah kau tulis sebuah sajak. yang dalam peng-aku-anmu, aku bukan aku. terhapus logika. hanya kering matamu yang coba berontak dari hatimu.
pernah kau tulis sebuah sajak. dalam remah luka.
dan aku-
-lelah
buram
ini hanya cerita tentang
a k u
lelaki malam di pembatas cakrawala
yang tak pernah tahu akan aurora
bahkan semburat senja
hanya obrolan yang terdengar di telingaku saja
dan kini mereka
menunjuk duapuluhempat warna pelangi
saat hujan baru saja berpaling
sedang padaku hanya
gradasi buram. hitam-abu-putih
atau aku yang telah
buta?
a k u
lelaki malam di pembatas cakrawala
yang tak pernah tahu akan aurora
bahkan semburat senja
hanya obrolan yang terdengar di telingaku saja
dan kini mereka
menunjuk duapuluhempat warna pelangi
saat hujan baru saja berpaling
sedang padaku hanya
gradasi buram. hitam-abu-putih
atau aku yang telah
buta?
Subscribe to:
Posts (Atom)